Pensiun ? Siapa takut

 “Pensiun” atau “Purna Bhakti” … bagi sebagian orang, masa ini adalah masa yang ditunggu-tunggu. Terutama bagi mereka yang hampir sepanjang hari bekerja, bahkan hingga larut malam.

Saya pun pernah berada di fase itu. Saat usia mendekati 50 tahun, saya mulai membayangkan… kapan ya masa pensiun itu tiba? Rasanya seperti menunggu garis akhir setelah perjalanan panjang.

Hingga akhirnya, waktu itu benar-benar datang.

Di hari pertama memasuki masa pensiun, rasanya lega… sangat lega. Saya bisa tidur tanpa terbebani pikiran tentang pekerjaan dan segala permasalahannya. Dan ketika bangun keesokan harinya, ada perasaan ringan. Tidak perlu terburu-buru berangkat kerja. Tidak perlu memikirkan kemacetan jalan. Tidak ada tekanan.

Mungkin rasanya seperti sedang “blocked leave” saat masih bekerja dulu — benar-benar menikmati hari tanpa diganggu urusan kantor

Masa-masa indah itu terasa sangat nikmat di minggu pertama. Bangun tanpa beban. Hari terasa singkat karena begitu menyenangkan. Tidak ada tekanan. Tidak ada target. Hanya menikmati waktu yang dulu terasa mahal.

Memasuki minggu kedua, saya mulai mencoba menjalankan berbagai rencana yang sebelumnya sudah saya susun dengan yakin.

Karena saya memang hobi memasak, saya memberanikan diri membuka usaha kuliner kecil-kecilan secara online. Sistemnya sederhana, open PO kepada teman-teman kantor saya dan kantor istri, serta melalui WA group kompleks perumahan.

Alhamdulillah, ada saja pesanan yang masuk, meskipun tidak banyak. Tapi rasanya… wah, happy banget. Ada perasaan bangga karena merasa hasil karya saya dihargai dan diakui.

Di awal memulai usaha ini, saya masih dibantu si bontot yang saat itu belum bekerja. Saya yang memasarkan dan menyiapkan pesanan, anak saya yang menjadi kurirnya. Rasanya asyik sekali… seperti punya tim kecil di rumah sendiri.

Namun, di sela kesibukan itu, ada satu hal yang mulai saya rasakan… kelelahan dan sulit mengatur waktu.

Usaha tersebut harus saya kelola sendiri, mulai dari perencanaan, memasak, hingga pemasaran. Apalagi setelah anak saya mulai bekerja, urusan delivery pun harus saya jalankan sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya.

Belum lagi usaha kuliner harus terus berinovasi agar tetap bertahan. Dari situlah saya mulai merasa keteteran. Pesanan perlahan menurun — mungkin pelanggan mulai bosan. Hingga akhirnya, dalam waktu sekitar tiga bulan, usaha tersebut mulai meredup.

,Saat itu saya mulai berpikir, saya harus mencari jalan lain. Saya perlu kesibukan baru, sekaligus tambahan pemasukan. Saya ingin tetap menjaga “kewarasan” agar tetap merasa berguna dan tidak kehilangan arah. Secara finansial, saya tidak ingin bergantung pada anak-anak — terutama karena masih ada tagihan kartu kredit yang harus saya selesaikan.

Alhamdulillah, saat itu istri saya masih bekerja, sehingga kebutuhan rumah tangga standar masih bisa terpenuhi.

Saya pun mulai berpikir untuk memanfaatkan tenaga dan kendaraan yang ada di rumah. Ya, akhirnya saya mendaftar menjadi driver online di kedua aplikasi hijau. Setelah berdiskusi dan atas seizin seluruh keluarga, saya mendaftarkan diri. Alhamdulillah, salah satu aplikasi menerima permohonan saya dalam waktu singkat, sementara yang satu lagi masih harus menunggu.

Pada hari pertama saya mencoba “on bid”, rasanya nano-nano sekali. Apakah saya bisa menjalankan tugas dengan baik? “Tamu” seperti apa yang akan saya dapatkan?

Singkat cerita, orderan pertama akhirnya masuk. Kebetulan titik jemputnya dekat dengan rumah. Ketika notifikasi berbunyi, saya kaget, panik, dan sempat bingung… haha. Maklumlah, saya orang tua yang agak gaptek soal HP.

Rasanya campur aduk. Bahagia, sekaligus canggung. Bukan karena malu atau gengsi — sama sekali bukan itu. Lebih karena saya belum terbiasa. Dulu saya terbiasa duduk di ruang kerja, menyiapkan laporan dan menghadiri berbagai meeting. Sekarang saya menunggu notifikasi di aplikasi.

Namun setelah beberapa waktu berjalan, muncul perasaan lega setiap kali satu order selesai. Ada rasa puas karena masih bisa bekerja, masih bisa menghasilkan, dan masih bisa berdiri dengan kaki sendiri.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai ikhlas menerima fase ini sebagai makna baru dalam hidup saya. Saya tidak pernah melihatnya sebagai penurunan peran, tetapi sebagai bentuk lain dari kebermanfaatan.

Setiap penumpang yang saya antar, setiap makanan yang saya kirim, setiap percakapan singkat di perjalanan — semuanya mempunyai cerita dan kesan masing-masing. Bahkan terasa seperti cara Allah menjawab doa saya. Karena saya selalu berdoa agar di masa tua saya, saya bisa bermanfaat bagi banyak orang. Dan mungkin, tanpa saya sadari, Allah sedang mengabulkan doa itu.

Allah SWT Maha Baik. Dia tidak mengurangi peran saya, hanya mengubah bentuknya, dan menjawab doa saya pada waktu dan dengan cara terbaik menurut-Nya.

Jika hari ini Anda sedang memasuki masa purna bhakti dan merasa bingung harus menjadi apa, percayalah… kita tidak kehilangan nilai hanya karena kehilangan pekerjaan atau jabatan.

Peran boleh berubah, tetapi kebermanfaatan tidak pernah pensiun.

Purna Bhakti bukan akhir dari segalanya, tetapi awal dari fase baru dalam kehidupan. Maka hadapilah dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Salam Purnakawan

Komentar